Pages

Kamis, 16 Oktober 2014

INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT

A.    Individu
Individu berasal dari kata latin “individuum” artinya yang tidak terbagi, maka kata individu merupakan sebutan yang dapat digunakan untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan. Istilah individu dalam kaitannya dengan pembicaraan mengenai keluarga dan masyarakat manusia, dapat pula diartikan sebagai manusia. Terdapat tiga aspek yang melekat sebagai persepsi terhadap individu, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek-sosial yang bila terjadi kegoncangan pada suatu aspek akan membawa akibat pada aspek yang lainnya. Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyarakat yng menjadi latar belakang keberadaanya. Individu berusaha mengambil jarak dan memproses dirinya untuk membentuk perilakunya yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang sesuai dengan perilaku yang telah ada pada dirinya.

B.     Keluarga
Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan berpendapat bahwa keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya. Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga “kulawarga” yang berarti “anggota” “kelompok kerabat”.  Keluarga adalah lingkungan di mana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu.
Keluarg inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak mereka. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut : 1. Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. 2. Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. 3. Peran Anak : Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

C.    Masyarakat
Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan hidup, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya. Tatanan kehidupan, norma-norma, dan adat istiadat itulah yang menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. Suatu kelompok masyarakat dapat berupa suatu suku bangsa, atau juga berlatar belakang dari berbagai suku. Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat, dapat digolongkan menjadi dua, yaitu masyarakat sederhana dan masyarakat maju (modern).

D.    Permasalah dalam Keluarga

Dalam keluarga orang tua selalu mengajarkan dan mendidik anak-anakna agar kelak dalam kehidupannya mampu bertindak dalam masyarakat. Mereka harus mengikuti norma-norma dan nilai social yang berlaku. Orang tua mendidik anaknya dengan norma-norma agama, kesopanan, adat istiadat dan norma-norma lainnya tentu memiliki tujuan. Tujuan mereka adalah agar anaknya kelak menjadi orang yang berguna, manusia yang berbudi luhur dan mampu bersosialisasi di masyarakat dengan baik.
Penyimpangan sosial yang terwujud dalam tindakan yang menyimpang, banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kehidupan social di masyarakat. Suatu keluarga yang tidak harmonis, akan berpengaruh terhadap perilaku anak-anaknya. Misalnya, orang tua yang sering bertengkar didepan anak-anaknya, menyebabkan anak kehilangan pegangan dan frustasi. Hal ini mendorong si anak terjerumus pada tindakan-tindakan yang menyimpang seperti mabuk-mabukan, menggunakan narkoba dan bentuk –bentuk tindakan lainnya.
Beberapa factor yang menyebabkan sosialisasi dalam keluarga tidak berjalan dengan baik, sebagai berikut :
      1.      Anak selalu dimanjakan orang tua, anak yang berbuat salah selalu dibela dan dianggap benar. Akibatnya,    anak akan bertindak sesuka hatinya karena yang selalu diperbuat dianggap benar.
    2.   Orang tua selalu sibuk sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan perhatian dan kasih saying kepada anak.
      3.      Kedua orang tua selalu bertengkar dan tidak pernah harmonis.
      4.      Orang tua yang selalu keras dan mengekang anak. Anak tidak memiliki kebebasan sama sekali.
      5.      Perilaku orang tua yang menjadi panutan dalam keluarga tidak mencerminkan contoh yang baik.
Cara mengatasi masalah sosial dalam keluarga :
      1.      Pilih waktu untuk bicara
         Pilihlah waktu untuk bicara dengan keluarga, misalnya pasangan atau anak dengan tepat. Pilihlah waktu     yang sekiranya keluarga anda sedang santai.
      2.      Ungkapkan masalah dengan jujur
           Jangan pernah berpikiran bahwa keluarga tahu apa yang akan anda bicarakan. Oleh karena itu, bicarakan  sejelas dan sejujur mungkin tentang masalah yang ada.
      3.      Dengarkan
          Dengarkan apapun penjelasan atau ungkapan hati keluarga anda. Jangan menyela pembicaraan karena bisa menimbulkan kesalahpahaman.
      4.      Buat solusi
    Tujuan utama dari dilakukannya pembicaraan mengenai masalah keluarga ini adalah adanya solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.
     Dalam sebuah keluarga, komunikasi merupakan hal yang sangan penting. Komunikasi yang terjalin baik antar anggota keluarga akan membuat hubungan keluarga semakin harmonis.

Sumber :


0 komentar:

Posting Komentar